Selasa, 16 Desember 2008

Memaafkan Tanpa Melupakan

Wafatnya HM. Soeharto. Seseorang yang pernah memimpin Republik Indonesia paling lama dalam sejarah. Seseorang yang diakui oleh semua fihak sebagai orang yang banyak berjasa dalam memimpin negeri ini. Beliaulah, pemimpin yang mampu mengangkat negeri ini dari keterpurukan ekonomi di akhir tahun 60-an, setelah krisis politik berkepanjangan di masa orde lama. Beliau pula pemimpin yang mampu untuk menghadirkan pembangunan ekonomi secara berkelanjutan, yang dulu kita kenal dengan istilah Repelita (rencana pembangunan lima tahun). Di bawah kepemimpinannya, rakyat Indonesia pernah mengalami swasembada pangan, sehingga harga pangan demikian terjangkau. Infrastruktur jalan raya, listrik dan telekomunikasi juga banyak dibangun pada masa kepemimpinan beliau.

Namun, selain hal-hal manis tersebut, kita pun mengenang masa-masa kelam yang pernah dialami, khususnya oleh umat Islam, di masa kepemimpinan beliau. Umat Islam yang awalnya dirangkul saat membubarkan PKI, kemudian dijauhi dan dipinggirkan. Dimulai dari pelarangan pembentukan kembali salah satu Partai Islam terbesar di negeri ini yaitu Masyumi, hingga pelabelan ekstrim kanan (eka) dan tindakan represif bagi kelompok Islam yang tidak setuju dengan kebijakannya. Karena itulah, kita mencatat peristiwa-peristiwa kelam yang pernah terjadi saat itu. Mulai dari kasus aliran kepercayaan, pelarangan jilbab, isu asas tunggal, hingga peristiwa pembantaian di Tanjung Priok dan Talangsari (Lampung). Demikian represifnya rezim orde baru, bahkan untuk sekedar menyelenggarakan pengajian pun sungguh sangat sulit di masa itu.

Meskipun demikian, menjelang hari-hari terakhir Pak Harto, kita menyaksikan tokoh-tokoh Islam yang mewakili umat Islam yang pernah disakiti oleh kebijakan beliau, berulang-ulang kali mengungkapkan pemaafan atas kesalahan Pak Harto. Bahkan, tak hanya itu, tokoh-tokoh Islam itu pun meminta seluruh masyarakat untuk mendo'akan dan memaafkan Pak Harto. Sebuah sikap yang bijaksana dan mencerminkan keluhuran akhlaq Islam. Islam memang mengajarkan keutamaan memberikan maaf dibadingkan meminta maaf. Dalam al-Qur'an, Allah subhanahu wa ta'ala mengungkapkan diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah kemampuan untuk memberikan maaf.

(Yang bertaqwa itu adalah) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan yang mampu menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Al-Qur'an, Surat Ali Imran ayat 134)

Dalam as-Sunnah pun, kita dapat menyaksikan begitu banyak contoh pemaafnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Salah satunya, seperti saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berhasil menaklukkan kota Mekkah (fathu Makkah). Sebagai seseorang yang pernah disakiti, disiksa dan diperangi oleh penduduk Mekkah hingga akhirnya terusir dari kampung halamannya, secara manusiawi sebenarnya layak saja jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membalas perbuatan penduduk Mekkah tersebut. Namun, alih-alih membalas, saat datang kembali ke kota Mekkah sebagai penguasa, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam malah memberikan pengampunan massal. Seraya bersabda, "Idzhabuu, fa antumut thulaqqa (Silahkan pergi sesuka hati, kalian adalah orang-orang yang merdeka)". (Kitab Sunan Kubra al-Bayhaqi juz 9 hal. 118 dan kitab Ma'rifatus sunan wal atsar lil Bayhaqi juz 14 hal. 417) Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga mengungkapkan hari agresi militer-nya ke kota Makkah bukan sebagai hari pertumpahan darah, namun sebagai "yaumur rahmah" (hari kasih sayang).

Karena itulah, jika terhadap penduduk Mekkah yang belum menjadi muslim saja begitu besar maaf yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tunjukkan, maka mengapa kita tidak dapat memaafkan kesalahan Pak Harto yang hingga akhir hayatnya masih menyatakan diri sebagai seorang muslim.

Walaupun tentu saja, pemaafan yang diberikan bukan berarti kita boleh melupakan seluruh sejarah yang pernah terjadi di masa kepemimpinan beliau. Umat Islam hendaknya tidak menjadi umat yang pendek memori kesejarahannya. Kaum muslimin selayaknya adalah kaum yang sadar sejarah, karena al-Qur'an telah berulang kali mengingatkan kepada kita pentingnya pemahaman sejarah.

Maka Kami jadikan yang demikian itu (peristiwa sejarah) sebagai peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Qur'an, surat al-Baqarah ayat 66). Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an, surat Yusuf ayat 111)

Diantara hal-hal yang dapat dijadikan 'ibrah (pelajaran) dari sejarah kekuasaan orde baru adalah sebagai berikut :
1. Betapa buruknya jika syahwat kekuasaan sudah tertanam dalam diri manusia. Karena syahwat kekuasaan inilah rezim orde baru dapat berkuasa selama 32 tahun di Indonesia. Juga, karena syahwat kekuasaan ini pula rezim orde baru menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Untuk itulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita bahayanya terlalu obsesif terhadap kekuasaan. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya kalian akan berlomba-lomba untuk berkuasa, padahal ia adalah penyesalan di hari kiamat." (Shahih Bukhari juz 22 hal. 59 no. 6615)
2. Pentingnya pengawasan dan kritik dalam kepemimpinan. Saat seorang pemimpin tidak mau dikritik dan dinasehati maka yang muncul berikutnya adalah lupa diri yang bermuara pada kesewenang-wenangan. Karena itulah Umar Ibn Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Semoga Allah subhanahu wa ta'ala merahmati orang yang menghadiahkan aibku kepadaku."
3. Bahwa kepemimpinan hendaknya digunakan bukan saja untuk melindungi kebutuhan fisik rakyat, namun juga kebutuhan psikisnya. Melindungi rakyat dari ketakutan dan kesedihan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Siapa saja yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk mengurusi umat Islam, sedang ia tidak memperhatikan kedukaan dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan, kedukaan dan kemiskinannya di hari kiamat." (Sunan Abi Dawud, juz 8 hal.177 no. 2559)
4. Pentingnya pula menjaga jarak antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi (ataupun keluarga) dalam kekuasaan. Tidak layak bagi seorang pemimpin jika ia menggunakan kekuasaannya demi kepentingan pribadi maupun keluarganya. Sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Amirul mu'minin Umar Ibn Khattab radhiyallahu 'anhu yang mematikan lampu ruang kerjanya saat putranya datang untuk membicarakan masalah keluarga. Saat putranya bertanya, mengapa Umar melakukan itu, Umar menjawab tegas, "Minyak lampu ini dibeli dengan uang rakyat, untuk itu kita tak layak berbicara tentang keluarga dengan diterangi lampu yang dibeli oleh uang rakyat."

Semoga kita semua dapat memaafkan kesalahan-kesalahan Bapak H.M Soeharto. Mendo'akan kebaikan baginya sebagai seorang hamba Allah. Namun, tidak melupakan kekurangan yang pernah dilakukannya, agar sejarah masa lalu tidak terulang lagi.

Wallahu a'lam bish showwab
Muhammad Setiawan(murobbiku)

Apa Obsesimu ?

Bukan karena terinspirasi dengan "tag line" sebuah iklan. Atau, ingin membantu mempopulerkan (apalagi produknya) iklan tersebut. Namun, masalah obsesi sesungguhnya memang adalah hal yang sangat penting. Obsesi yang berarti keinginan kuat, adalah hal yang dapat mendorong seseorang untuk berbuat lebih gigih dan keras. Para ahli manajemen sumber daya manusia menyebut obsesi ini sebagai motivasi intrinsik. Motivasi yang berasal dari dalam jiwa manusia yang menuntunnya untuk tetap melangkah. Karena obsesi tersebutlah, seseorang rela untuk meniti hari-hatinya dengan penuh peluh. Seseorang rela untuk melintasi gunung, seberangi hutan dan arungi lautan demi mengejar obsesinya tersebut. Untuk itu, kesalahan dalam menentukan obsesi akan menentukan kesalahan seluruh langkah yang akan dibuat. Karena pentingnya makna obsesi itulah, Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam yang mulia memberikan panduan untuk kita dalam menentukan obsesi hidup.
Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullahu ta'ala dari sahabat Utsman Ibn Affan radhiyallahu 'anhu :

"Barangsiapa yang akhirat menjadi obsesinya, maka Allah subhanahu wa ta'ala akan melancarkan semua urusannya, menjadikan hatinya terasa kaya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa yang dunia menjadi obsesinya, maka Allah subhanahu wa ta'ala akan mengacaukan semua urusannya, menjadikan hatinya miskin, dan dunia akan datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan kepadanya." (Sunan Ibnu Majah, no. 4095)

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam menjelaskan kepada kita bahwa obsesi manusia secara umum terbagi atas dua hal. Obsesi akhirat dan obsesi dunia.
Orang yang terobsesi dunia adalah orang yang menjadikan dunia dan hiasannya (jabatan, harta, popularitas ataupun kesenangan seksual) sebagai tujuan-tujuan hidupnya. Ia termotivasi untuk melakukan sesuatu jika diimingi-imingi dengan "bunga-bunga" dunia tersebut. Ia bergerak hanya untuk mencari dunia. Ia lupa bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah sementara. Sebuah terminal atau pemberhentian sementara dalam perjalanan panjang ke kampung keabadian. Sebagai sabda Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam yang mulia ; "Jadilah kalian di dunia ini sebagai orang asing atau pengembara" (Shahih Bukhari no. 5937).
Jika seseorang hanya bergerak karena alasan dunia, maka Allah subhanahu wa ta'ala akan menjadikan kecintaan terhadap akhirat keluar dari dalam hatinya. Sebagaimana ungkapan seorang salafus shalih bernama Malik Ibn Dinar rahimahullahu ta'ala, "Demi Allah, dua hal tidak akan pernah bertemu dalam hati seorang manusia, yaitu sedih karena akhirat dan bahagia karena dunia. Salah satu dari keduanya harus mengusir yang lainnya."

Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan seseorang demikian terobsesi terhadap dunia.
Pertama, lupa akan hari akhir dan kedahsyatannya. Orang yang terobsesi terhadap lupa bahwa kehidupan ini adalah sawah dan ladang beramal untuk akhirat. Mereka menyangka bahwa kehidupan ini akan berakhir begitu saja setelah nyawa tercabut dari tubuh. Karena itulah ia menghabiskan waktu-waktu hidupnya hanya untuk bekerja mencari dunia dan bersenang-senang. Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan karakteristik mereka dalam ayat-Nya : "Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (Qur'an surat al-Jatsiyah ayat 24). Dikisahkan, Imam Hasan al-Bashri rahimahullahu ta'ala pernah berjalan melewati orang-orang yang sedang tertawa. Lalu Hasan al-Bashri bertanya kepada orang itu, "Saudaraku, apakah engkau pernah melewati titian akhirat (sirath) ?" Orang itu menjawab, "Belum." Lalu, Hasan al-Bashri bertanya kembali, "Kalau begitu, kenapa engkau tertawa seperti ini, padahal hari-hari kelak amatlah sulit ?"
Kedua, ambisi terhadap jabatan. Mereka yang ambisius terhadap jabatan dan kekuasaan akan menghabiskan seluruh kehidupannya untuk mencapainya. Bahkan tak jarang menghalalkan segala cara agar mampu berkuasa. Abu Ja'far al-Mihwalli, seorang salafus shalih, mengungkapkan, "Seseorang yang memiliki jabatan haram baginya merasakan kenikmatan akhirat."
Ketiga, tertipu dengan kesehatan. Orang-orang yang tertipu dengan kebugaran fisiknya seringkali merasa bahwa kematian masih sangat jauh darinya. Ia mengira bahwa kematian hanya menghampiri orang-orang yang sakit atau telah tua. Padahal kematian akan menghampirinya tanpa diduga.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya." (Qur'an surat Qaf ayat 19).

Jika seseorang terobesesi terhadap dunia, maka Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah menyediakan tiga "hadiah" bagi mereka. Pertama, Allah akan menjadikan semua urusannya kacau. Sehingga hidupnya akan terasa sempit dan sesak. Yang kedua, Allah subhanahu wa ta'ala juga akan menjadikan dirinya senantiasa kekurangan. Sehingga ia akan terus haus terhadap dunia. Layaknya seseorang yang meminum air laut, bukannya kesegaran yang ia raih namun dahaga yang tak habis-habisnya. Merekalah sesungguhnya orang-orang yang miskin. Dan yang terakhir, Allah subhanahu wa ta'ala akan memberikan kepada mereka sebatas apa yang telah ditakdirkan kepada mereka. Tak lebih. Padahal kebutuhan-kebutuhan hidup mereka Allah akan tambah terus-menerus.

Sebaliknya, bagi orang-orang yang terobsesi terhadap akhirat, Allah akan anugerahkan kepada mereka tiga kenikmatan. Pertama adalah, Allah akan mempermudah semua urusannya. Sebagaimana ungkapan Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, "Apabila Aku (Allah subhanahu wa ta'ala) telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia melihat, Aku akan menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Apabila ia meminta kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Dan apabila ia berlindung kepada-Ku, aku akan menjaganya." (Shahih Bukhari, no. 6021). Anugerah kedua bagi orang-orang yang terobsesi kepada akhirat adalah, Allah akan menjadikan hatinya kaya. Allah cukupkan segala urusannya, sehingga ia mampu untuk berbagi dengan sesama. Dan yang terakhir, Allah subhanahu wa ta'ala akan mendatangkan dunia kepadanya sambil menunduk. Kehidupan dunianya dipermudah oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Allah memberikan rezki kepadanya, tanpa batas. "Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberikan rezki kepada tanpa diduga dan terhitung." (Qur'an surat at-Thalaq ayat 2 – 3).

Karena itu beruntunglah, orang-orang yang obsesi hidupnya kepada akhirat. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana karakteristik mereka ? Sekurangnya, ada tiga hal yang menjadi karakter manusia pengobsesi akhirat. Pertama, mereka adalah orang yang ikhlas. Lurus ber-Tauhid. Hanya bergerak untuk dan karena Allah semata. Mereka bekerja bukan semata-mata karena mencari nafkah, namun jauh daripada itu karena sadar bahwa bekerja adalah beribadah. Bahkan seluruh aktifitas hidup dan tarikan nafasnya adalah ibadah. Kedua, pengobsesi akhirat adalah pengagum Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam. Menjadikan Muhammad shallaLlahu 'alayhi wasallam sebagai contoh dalam hidupnya. Berjalan sesuai dengan sunnah-nya. Ketiga, para pengobsesi akhirat adalah orang-orang yang memiliki semangat berbagi yang tinggi. Ia sadar bahwa ia tidak hanya hidup bagi dirinya sendiri, namun juga harus memberi manfaat bagi sebanyak mungkin manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain." Atau, ungkapan seorang pejuang Islam di Mesir, Sayyid Quthb rahimahullahu ta'ala, "Orang kerdil adalah orang yang hidup untuk dirinya sendiri dan mati untuk dirinya sendiri. Sedangkan, orang besar adalah orang yang hidup untuk orang lain dan mati untuk orang lain."

Jadi, apa obsesimu ?

Wallahu a'lam bis showwab

Muhammad Setiawan(murobbiku)

kata-kata syaikh abu laits

Kalimat Tauhid (Laa Ilaaha Illalloh) tidak akan tegak kecuali dengan darah. Telah tertipu, terperdaya dan rusak akalnya bagi siapa saja yang menyangka bahwa kalimat tauhid akan menang tanpa tertumpahnya darah.


2
Wahai saudara…Jika kita menginginkan jihad, tegaknya kalimat Tauhid, kekuasaan di bumi, dan mati syahid maka kita lihat kalimat tauhid tersebut kemudian kita ikuti serta menetapi konsekuensi yang menjadi tuntutannya.


3
Al Aqsho menurut kami adalah tujuan dari jihad yang kami lakukan.
Kami tidak menerjuni kancah pertempuran kecuali saya sering meyakinkan bahwa apa yang kita laksanakan ketika terjun ke kancah jihad fi sabilillah kecuali kami berangan-angan untuk memindahkan pertempuran ini di Masjid Al Aqsho.


4
Wahai para mujahidin di Iraq, Afghanistan, Aljazair, Chechnya, dan di setiap tempat…Jikalau kita belum merasakan payah dan kesulitan maka sekali-kali kita tidak akan pernah merasakan yang namanya kebahagiaan.


5
Saya menyeru kepada para ulama untuk mendatangi medan-medan jihad dan untuk memimpin saudara, keturunan dan murid-murid mereka.
Karena sesuatu yang membahagiakan seorang mujahid adalah ketika melihat seorang ‘alim berada di front terdepan dari medan pertempuran untuk memimpin mereka.

Senin, 15 Desember 2008

ULAMA BAJINGAN

Ulama bajingan adalah ulama yang membenarkan kekuasaan kafir mengangkangi negeri ini dengan dalil ALQURAN dan HADIST NABI .

Ulama bajingan adalah ulama yang hanya mengurusi fikih haid dan nifas tapi meninggalkan fikih jihad .

Ulama bajingan adalah ulama yang hanya mampu berbicara keadilan tanpa pernah melaksanakanya .

Ulama bajingan adalah ulama yang kepalanya bersorban tapi hatinya penuh nafsu kekuasaan .

Ulama bajingan adalah yang memfitnah para mujahid dengan label teroris dan begundal .

Ulama bajingan adalah yang merasa lega dengan isi amlop besar dan tidak pernah datang bila tidak ada uang yang besar .

Ulama bajingan adalah yang merasa puas dengan ilmu dan amal ubudiyahnya saja dan meningalkan jihad fi sabilillah .

Ulama bajingan adalah yang amalnya sedikit tapi kalau memimpin doa begitu panjang .

Ulama bajingan adalah yang memberikan fatwa atas dasar pesanan penguasa .

Ulama bajingan adalah yang setiap perkataanya harus diikuti seolah – olah dia adalah seorang nabi .

Ulama bajingan adalah sekumpulan manusia yang bermusyawarah untuk melegalkan ketergelinciran pemikirannya .

Ulama bajingan adalah ulama yang tenggelam dengan dzikir – dzikir panjang tapi melarang umat untuk bejihad .

Ulama bajingan adalah yang mengatakan jihad tertinggi adalah melawan hawa nafsu pribadi .

Ulama bajingan adalah yang mengatakan tidak perlu menegakkan syariat islam yang penting nilai – nilai islam dilaksanakan .

Ulama bajingan adalah ulama yang menutupi keislamannya demi kenikmatan duniawi .

Ulama bajingan adalah yang mengatakan hanya dengan organisasinya islam akan tegak.

Ulama bajingan adalah seperti orang buta yang tak bisa berjalan tapi menganggap dirinya wali .

Ulama bajingan adalah seperti manusia yang di akhir masanya dicangkok jantungnya .

Ulama bajingan adalah rektor bodoh yang mengusung pluralisme .

Ulama bajingan adalah seperti orang yang cacat bibirnya karena capek meneriakan sekulerisme .

Ulama bajingan adalah yang menganjurkan pribadi dan orang lain untuk kaya walaupun dengan menghalalkan segala cara .

Ulama bajingan adalah yang menolak kritik walaupun itu benar dari saudarannya .

Ulama bajingan adalah yang mengaggap kepimpinannya adalah wahyu dari yang maha kuasa hingga enggan untuk diturunkan .

Ulama bajingan adalah yang bergoyang dangdut disetiap kampanyenya sambil mengatakan “ inilah jihad kita”

Ulama bajingan adalah yang menjilat manusia yang kemarin membunuh saudarannya .

Bila bertemu dengan mereka ludahi saja mukannya .

Bila lewat depan rumahnya lempari dengan batu saja .

Bila dia bicara bungkam mulut baunya .

Bila bersalaman dengannya patahkan tangannya .

Karena mereka dunia islam tercemari dengan perkataan kosongnya .

Karena mereka umat jumud otaknya .

Karena mereka berjuta orang hanya bertaklid buta .

Karena mereka kafir thoghut menjadi ideology umat .

Karena mereka umat tercekam di neraka dunia .

Karena mereka umat ragu – ragu dengan agamanya .

Karena mereka kegelapan dunia islam tak akan berakhir .

Karena mereka perpecahan umat mencapai titik puncaknya .

Kepada umat islam kembalilah kepada ALQURAN dan SUNNAH karena disana ada kehidupan .

Jadilah kalian umat yang bebas menyuarakan kebenaran walaupun dunia mendustakan .

Hanya dengan jihad dan I’dad agama ini akan tegak diatas mimbar dunia .

Bersatu tanpa memandang gerakan dan organisasi adalah solusi untuk meninggikan agama ini .

Tanggalkan segala atribut dunia yang menipu dan menghalangi perjuangan .

Singkirkan dengan kekuatan setiap penghalang ideology kita .

Pejuang tak akan pernah berhenti sampai dia mati atau memenangkan perjuangan suci .

Kenapa kalian masih duduk termangu menunggu taklimat yang menipu .

Kenapa kalian masih terbuai dengan slogan kosong para penipu .

Kenapa kalian tidak bangkit menentang keganjilan dalam perjuangan .

Kenapa kalian sendiri yang membuat agama ini menjadi angan – angan belaka untuk di tegakkan .

Kenapa kalian menunggu sepuluh tahun untuk menikmati syariat islam .

Kenapa kalian tidak dari sekarang datang kepada thoghut itu dan berkata “kamilah pemimpin kalian sekarang”

Jangan takut ALLAH selalu bersama kebenaran .

Jangan pernah berhenti karena berhenti adalah mengubur diri sendiri .

Jangan ragu karena hanya kebenaran yang menyelimuti agama ini .

Jangan bimbang karena kematian adalah kepastian .

Jangan dengarkan para penyeru jalan kesesatan .

Jangan malu untuk katakan “kami ada hanya untuk menegakkan syariat islam”

Sekarang bersiap siagalah dan berdoa karena perubahan itu dari sini yang akan kalian mulai .

Siapkan diri kalian untuk menyambut perubahan besar yang akan terjadi secara tiba – tiba .

Tapi bila kalian enggan ikut dengan kafilah ini perjuangan tak akan pernah berhenti dan cukuplah ALLAH sebagai sebaik – baiknya penolong .

Sabtu, 13 Desember 2008

Tuhan Sembilan Senti

Jika kita membuka mata kita lebih lebar dan melihat sekeliling kita, sesungguhnya kita akan mendapatkan sebuah pemandangan yang menyedihkan di sekitar kita. Bangsa ini masih dililit oleh kemiskinan. Data tahun 2004 menyebutkan, setidaknya jumlah pengangguran di negeri ini telah mencapai angka 40 juta orang. Jika para penganggur ini adalah seorang kepala keluarga yang memiliki satu orang istri dan hanya satu orang anak maka sekurangnya kita telah memiliki angka 120 juta orang penduduk miskin di negeri ini. Seratus dua puluh juta orang yang berarti lebih dari setengah penduduk negeri ini yang jumalhnya 225 juta orang. Ini jika penduduk miskin tersebut diukur dari tingkat pengangguran terbuka. Belum pula jika dihitung dari angka pengangguran terselubung. Ataupun, dihitung dari penduduk miskin yang sudah bekerja namun upah yang diterimanya tidak sebanding dengan biaya kebutuhan pokok yang makin membumbung tinggi saja akhir-akhir ini. Tentu akhirnya kita akan mendapatkan angka penduduk miskin yang lebih tinggi lagi.

Namun, dibalik angka kemiskinan penduduk negeri ini yang makin fantastis, pernahkah kita menyadari komoditas apa yang lebih banyak dibeli oleh penduduk miskin negeri ini selain makanan pokok ? Yang karena mendahulukan untuk membeli komoditas ini, para penduduk miskin rela mengurangi pos pengeluaran pendidikan dan kesehatan mereka dalam anggaran belanja rumah tangganya. Komoditas itu ternyata adalah rokok ! Yah, rokok. Perusahaan-perusahan rokok di negeri ini yang berhasil memproduksi rokok hingga 225 miliar batang setahun (terbesar di dunia) ternyata konsumen setia terbesarnya adalah penduduk miskin. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003 misalnya menyebutkan, masyarakat miskin di negeri ini cenderung mengorbankan alokasi belanja kebutuhan pokok, termasuk beras, susu, tahu dan daging, demi tetap mempertahankan kebiasaan merokok. Pada tahun 1999, proporsi belanja makanan pokok keluarga keluarga miskin yang 28% turun menjadi 19% pada tahun 2003. Namun, pada periode yang sama proporsi belanja rokok keluarga miskin justru naik dan meningkat dari 8% menjadi 13%. (masya Allah ... !). Karena itu, tampaknya rokok sudah menjadi kebutuhan utama bagi sebagian penduduk negeri ini. Padahal, kita semua sepakat betapa besar kemadharatan yang diakibatkan oleh sebatang rokok. Tidak hanya bagi penghisapnya, namun juga bagi orang-orang di sekitarnya.

Mengenai bahaya rokok tersebut bahkan dapat kita baca jelas disetiap bungkus rokok. Ditulis dengan huruf kapital dan tebal. MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Namun, mengapa mendadak 12 juta kepala keluarga miskin yang aktif merokok (data BPS) menjadi buta huruf dan tidak menghiraukan peringatan tersebut. Padahal jelas, data organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutkan jumlah kematian akibat rokok di seluruh dunia saat ini telah mencapai 8,4 juta orang setiap tahunnya. Koran Tempo tanggal 9 April 2007, dalam sebuah artikelnya menyebutkan, bahwa dalam sebatang rokok terdapat : 4000 jenis racun kimia (10 diantaranya bersifat karsinogenik/merangsang tumbuhnya kanker). Sedangkan, korban jiwa (kematian) akibat rokok pada tahun 2001 berjumlah 427.946 orang atau 22,5% dari total kematian orang Indonesia. Adapun, total biaya konsumsi rokok penduduk negeri ini pada tahun 2001 adalah Rp. 127,4 triliun. Bayangkan, betapa besar uang yang telah dihamburkan oleh penduduk negeri ini demi memenuhi paru-parunya dengan asap rokok.

Jika ratusan trilyun telah kita keluarkan untuk tembakau, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang kemudian diuntungkan ? Apakah para petani cengkeh (bahan baku rokok) ? Ternyata, tidak. Petani cengkeh kita mengaku bahwa harga cengkeh jika sedang panen maka harganya turun hingga Rp. 15.000,-/kg. Padahal biaya produksinya saja tiap kilogram sudah mencapai Rp.16.000,-. Itu berarti, mereka rugi Rp.1.000,-/kg. Atau, mungkin yang untung adalah para buruh pabrik rokok ? Ternyata tidak pula. Sebagian besar upah buruh pabrik rokok hanyalah pas-pasan dengan UMR negeri ini yang terkenal sempit itu. Bahkan ada pula beberapa pabrik rokok yang mengupah buruhnya jauh di bawah UMR. Untuk itu, wajarlah jika sebagian besar buruh pabrik rokok adalah perempuan. Karena mereka dikenal rapih dalam bekerja dan tidak banyak menuntut. Jadi, siapa yang diuntungkan dari bisnis rokok ini ? Tak lain dan tak bukan, yang untung besar adalah para pemilik pabrik rokok. Jika diambil contoh dari dua perusahaan rokok besar di negeri ini saja, yaitu Gudang Garam dan HM. Sampoerna, maka kita bisa membayangkan bagaimana untungnya menjadi pemilik pabrik rokok di negeri ini. Majalah SWA tanggal 3 Juni 2007 menyebutkan, bahwa angka penjualan bersih Gudang Garam pada tahun 2006 adalah Rp. 26,3 triliun. Sedangkan HM. Sampoerna Rp. 29, 5 triliun. Dari penjualan bersih itu, Gudang Garam berhasil meraih laba bersih Rp. 1,88 triliun, dan Sampoerna Rp. 2,38 triliun. Keuntungan bersih ini kemudian mereka salurkan untuk menghidupi anak-anak bisnis perusahaan Gudang Garam dan HM. Sampoerna. Mulai dari bisnis makanan, properti, perkebunan, keuangan hingga bisnis perjudian. Tidakkah kita mencium aroma ketidak adilan di sini. Sebagian besar penduduk miskin kita telah dibuai dengan iklan-iklan rokok, hingga setiap hari mereka mengeluarkan uangnya untuk menambah besar kantong para cukong rokok tersebut.

Jika dari syariat Islam, sesungguhnya bagaimana hukum rokok ini ? Sepengetahuan penulis, hampir seluruh ulama Islam Internasional menghukumkan rokok sebagai haram. Hanya, ulama-ulama Indonesia saja yang sebagian masih menghukumkan rokok sebagai makruh. Diantara ulama yang mengharamkan rokok tersebut adalah Syeikh Abdul Aziz Ibn Baz rahimahullahu ta'ala. Beliau meungkapkan bahwa rokok haram karena rokok termasuk dalam al-khabaaits (hal-hal yang buruk) dan bukan at-thayyibat (hal yang baik). Keburukan rokok ini dihitung dari besarnya bahaya yang diterima oleh penghisap dan penghirup asap rokok. Padahal Allah SWT telah jelas-jelas menegaskan keharaman seluruh hal yang buruk. Sebagaimana termaktub dalam al-Qur'an surat Al-A’raf : 157 :"Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram)

Keharaman ini jika hanya memperhitungkan bahaya rokok dari aspek kesehatan. Belum dari segi tabdzir-nya. Sedangkan Allah SWT jelas melarang pula perilaku tabdzir (memboroskan harta). Dan janganlah engkau memboroskan hartamu. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudaranya syetan. (Al-Qur'an surat al-Isra ayat 26 – 27). Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wa sallam juga menjelaskan bahwa salah satu hal yang ditanya oleh Allah SWT kepada kita di hari kiamat adalah mengenai kemana kita membelanjakan harta kita. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abi Barzah al-Aslamy radhiyaLlahu 'anhu bahwa Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda, "Tidak akan melangkah kedua tapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ia ditanya mengenai usianya, untuk apa saja ia habiskan. Mengenai ilmu yang dimilikinya, untuk apa ia amalkan. Mengenai hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan. Serta, mengenai jasmaninya, untuk apa ia pergunakan". (Sunan at-Tirmidzi, juz 8, hal. 443, no. 2341).

Terakhir, saya ingin mengajak seluruh pembaca untuk merenungkan sebuah puisi yang pernah ditulis oleh Bapak Taufiq Ismail. Salah seorang penyair besar yang dimiliki negeri ini. Beliau menuliskan keprihatinan yang mendalam akan kegandrungan masyarakat Indonesia terhadap benda yang bernama rokok ini, dalam sebuah puisinya, yang berjudul "tuhan Sembilan Senti".

tuhan Sembilan Senti
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,/tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,// Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,//Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok,/tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,//Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,//Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,//Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,//Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,//Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,//Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,//Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,//Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,//Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?//Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.//Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?//Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.//Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,//Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,//Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,//Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,//Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,//Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.


Wallahu a'lam bis shawwab
Ya Allah, saksikanlah ... aku telah menyampaikan

Muhammmad Setiawan(murabbiku)

Orang Aneh

Suatu pagi, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam berangkat ke masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat shubuh berjama’ah dengan sahabat-sahabatnya. Sesampainya di masjid, ternyata beliau mendapati sahabat-sahabatnya masih berkumpul di pintu masjid. Belum juga masuk ke masjid sebagaimana biasanya. Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam heran dan kemudian bertanya, “Mengapa kalian belum juga masuk ke dalam masjid, wahai sahabat-sahabatku ? Bukankah waktu shubuh telah tiba ?” Sebagian sahabat kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, hari ini sumur dan tempat-tempat air kami sangat kering. Kami belum mendapatkan sepercik air sekalipun untuk melaksanakan wudhu. Bagaimana mungkin kami dapat melaksanakan shalat padahal kami belum berwudhu.” Saat itu, memang Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam belum mengajarkan kepada para sahabat radhiyyaLlahu ‘anhum untuk melaksanakan tayammum, sehingga wajarlah jika para sahabat agak bingung menghadapi kondisi seperti itu.

Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam yang mulia, kemudian meminta kepada salah seorang sahabat untuk mengambilkan sebuah bejana (ember). Setelah bejana itu ditaruh di hadapan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, beliau kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana tersebut. Dan ternyata, ajaib, atas izin Allah subhanahu wa ta’ala dari sela-sela jemari Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam muncul air jernih yang dengan deras mengalir. Sehingga bejana tersebut terisi penuh dengan air. Para sahabat pun bergantian berwudhu dengan air tersebut. Bahkan diriwayatkan, sahabat Abdullah ibn Mas’ud radhiyyaLlahu ‘anhu sampai meminum beberapa teguk air tersebut.

Selepas berwudhu dan shalat shubuh berjama’ah, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam kemudian duduk menghadap para sahabat-sahabatnya. Setelah itu, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam pun bertanya, “Tahukah kalian, siapakah orang-orang yang aku maksud sebagai saudara-saudaraku ?” Sebuah pertanyaan yang tidak pernah diungkapkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sebelumnya. Para sahabat pun terdiam, merenungkan makna dari pertanyaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Lantas, ada salah seorang sahabat yang memberanikan diri untuk menjawab, “Kami ya RasulaLlah ... Kamilah saudara-saudaramu itu ... Kamilah orang-orang yang telah rela untuk membelamu dengan seluruh jiwa, raga dan harta kami. Bahkan melebihi pembelaan kami terhadap keluarga kami sendiri.” Mendengar jawaban itu, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam pun tersenyum dan berkata, “Bukan, kalian bukanlah saudara-saudaraku (ikhwaaany) namun kalian adalah sahabat-sahabatku (ashhaabiy).” Mendengar penjelasan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, para sahabat pun makin bertanya-tanya dalam hati. Jika bukan mereka orang-orang yang dianggap sebagai saudaranya Rasulullah, lalu siapakah saudara-saudara Rasulullah tersebut ?
Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam kemudian bersabda, “Saudara-saudaraku (ikhwaany) adalah orang-orang yang tidak pernah bertemu denganku, tidak pernah melihat bagaimana mu’jizat-mu’jizat Allah diberikan untukku, tidak pernah melihat Al-Qur’an diturunkan kepadaku, mereka hidup jauh sesudah aku, mereka hanya mengetahui tentangku lewat tulisan-tulisan (hadits) dan mendengarkan al-Qur’an melalui mushaf. Namun, mereka beriman kepada Allah sebagaimana kalian beriman hari ini. Mereka membela aku sebagaimana kalian membela aku hari ini. Mereka mencintai agama ini (Islam) sebagaimana kalian mencintai agama ini. Mereka itulah saudara-saudaraku (ikhwaani). Sungguh, aku sangat ingin bertemu dengan saudara-saudaraku itu.” (aw kama qala Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam). Kisah ini tercantum dalam kitab Duurul Mantsur karya Imam Jalalludin as-Suyuthi, saat beliau menjelaskan al-Quran, surat al-Baqarah ayat ke-3 : (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Melalui, kisah ini, kita dapat mengambil sebuah pelajaran yang berharga. Bahwa ternyata, dalam Islam, kemuliaan suatu generasi bukan hanya milik generasi pada satu zaman saja. Bukan hanya milik generasi pendahulu (salaf) namun juga kemuliaan tersebut dapat dimiliki oleh generasi yang hadir kemudian (khalaf). Meskipun memang, generasi salaf diberi keistimewaan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berupa pertemuan mereka secara langsung dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sehingga mereka dapat beriman kepada Allah lebih awal. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat at-Tawbah ayat 100 : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Karena itu, generasi khalaf-pun mendapatkan kemuliaan di mata Allah subhanahu wa ta’ala jika mereka berkomitmen terhadap agama ini. Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam juga memuji generasi belakangan ini dengan julukan sebagai al-Ghuraabaa’ (orang-orang asing / dianggap aneh). Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Islam ini awalnya asing (dianggap aneh), dan Islam ini akan kembali dianggap aneh sebagaimana awalnya muncul, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh (al-Ghurabaa’).” (Musnad Ahmad, Bab Musnad Abdullah ibn Mas’ud, juz 8 hal 131)

Setidaknya ada 42 hadits yang menjelaskan makna al-Ghurabaa’. Salah satu maknanya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya dari sahabat ‘Amr ibn ‘Ash radhiyalLahu anhu, beliau berkata, “Suatu ketika kami bersama-sama dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, beliau kemudian bersabda, “Beruntunglah al-Ghuraabaa’...Para sahabat kemudian bertanya, “Siapakah al-Ghuraabaa’ itu ya Rasulallah .. ?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuat baik saat banyak orang berbuat kerusakan. Mereka melaksanakan keta’atan saat banyak orang melakukan kema’shiyatan.” (Musnad Ahmad, Bab Musnad Amr Ibn Ash, juz 13 hal. 400).

Karena itu marilah kita menjadi saudara-saudara Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam yang sangat beliau rindukan. Karena kita membela dan mencintai beliau, sebagaimana pembelaan dan cintanya para sahabat-sahabatnya dulu. Marilah kita menjadi al-Ghuraabaa’, orang-orang yang dianggap aneh karena masih melakukan keta’atan di saat banyak orang bangga dengan kema’shiyatan. Orang-orang yang dianggap aneh, karena sangat memperhatikan shalat, di saat banyak orang melalaikannya. Dianggap aneh karena tidak mau mengambil harta haram, di saat orang-orang banyak yang berfikir, “Yang haram saja susah, apalagi yang halal.” Menjadi orang yang dianggap aneh karena sibuk untuk berbagi dan bergaya hidup sederhana, di saat banyak orang bangga dengan kemewahan dan tidak peduli dengan penderitaan saudara-saudara di sekitarnya.

Wallahu a’lam bis showwab

Muhammad Setiawan(murabbiku)

Prinsip-Prinsip Membelanjakan Harta

Salah satu pilar dalam sistem keuangan Islam adalah kecerdasan dalam mengelola pengeluaran harta. Harta yang kita pegang hari ini, dalam perspektif Islam, sesungguhnya bukanlah milik kita, namun titipan dari Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, harta tidak boleh kita belanjakan semau-maunya kita. Ada prinsip-prinsip pembelanjaan harta dalam Islam yang harus kita perhatikan. Untuk itulah Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam pernah mengingatkan kita semua, bahwa salah satu hal yang akan ditanya nanti oleh Allah subhanahu wa ta’ala di hari kiamat adalah mengenai untuk apa kita belanjakan harta kita.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abi Barzah al-Aslamy radhiyyaLlahu ‘anhu, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam pernah bersabda, “Tidak akan melangkah kedua belah kaki seorang hamba di hari kiamat kelak, hingga ia ditanya mengenai empat hal : tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia manfaatkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam kitab sunannya dengan derajat hasan).

Dengan memahami bahwa harta yang dikuasai saat ini akan ditanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka setiap muslim selayaknya memiliki prioritas dalam membelanjakan hartanya. Sehingga tidak terjadi fenomena yang menyedihkan seperti yang sering kita lihat saat ini. Yaitu, banyaknya orang yang membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, padahal, banyak orang yang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja sangat kesulitan. Beberapa bulan yang lalu misalnya, kita melihat ada ribuan orang di Jakarta yang rela untuk menghabiskan uang hingga jutaan rupiah hanya untuk menonton konser boys band (Backstreet Boys) yang datang dari Amerika. Padahal pada saat yang sama ada seorang ibu hamil yang meninggal dunia karena kelaparan di Makassar. Beberapa pekan yang lalu juga, sebuah hotel di Jakarta dipenuhi oleh ratusan orang yang rela membayar hingga sepuluh juta rupiah (setiap orang) hanya untuk menonton seorang penyanyi wanita (Diana Ross) dari negeri paman Sam di saat ribuan orang di negeri ini tidak dapat membayar biaya kesehatan paling dasar. Ketidakcerdasan dalam membelanjakan harta ini memang jika dibiarkan akan mengakibatkan terjadinya kecemburuan sosial yang akhirnya bisa berujung pada konflik sosial. Untuk itu, berikut ini beberapa prinsip-prinsip sederhana membelanjakan harta dalam Islam.

Prinsip pertama, hendaknya setiap muslim memprioritaskan pengeluaran hartanya bagi hal-hal yang wajib. Diantara hal yang wajib itu adalah membayar zakat dan menafkahi keluarga. Zakat adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala yang disandingkan oleh-Nya dalam banyak ayat al-Qur’an setelah perintah shalat. Sedangkan menafkahi keluarga adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap lelaki yang telah berkeluarga. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam pernah bersabda, “Cukuplah seorang lelaki itu dianggap berdosa, jika ia menyia-nyiakan orang-orang yang ada dalam tanggungannya (tidak memberi nafkah).” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam kitab shahihnya). Untuk itu, adalah sangat menyedihkan jika kita melihat adanya para pemimpin keluarga yang lebih memilih untuk membelanjakan hartanya demi kesenangan dirinya sendiri dibandingkan untuk menafkahi anak dan istrinya. Beberapa pekan yang lalu misalnya, di sebuah televisi swasta pernah ditayangkan reportase tentang kehidupan kaum miskin kota di Jakarta yang ternyata kepala keluarganya lebih memilih untuk mengalokasikan uangnya untuk rokok ketimbang memenuhi gizi dan biaya pendidikan anak-anaknya. Ditampilkan misalnya, ada seorang tukang ojek motor di kawasan UKI Jakarta Timur yang penghasilan seharinya sebesar Rp. 40.000,- namun habis untuk belanja rokok sebesar Rp. 27.000,- . Sehingga, hanya sekitar 20% yang ia bawa untuk menafkahi anak dan istrinya. Di kawasan lain, ada pula seorang pemulung di Menteng Jakarta Pusat yang memiliki penghasilan perhari Rp. 20.000,- namun habis Rp. 13.000,- hanya untuk rokok. Sehingga tinggal tersisa Rp. 7.000,- saja yang ia bawa tiap harinya untuk makan istri dan tiga orang anaknya. Wal ya’dzubiLlah

Prinsip yang kedua, hendaknya setiap muslim menyisakan bagian dari hartanya untuk menunaikan ibadah-ibadah sunnah. Misalnya, dengan berinfaq, shadaqah maupun memberikan qardhan hasan (pinjaman lunak) bagi orang-orang yang membutuhkan di sekitarnya. Pinjaman lunak ini menjadi hal yang makin terasa penting, di saat “prajurit-prajurit ribawi” makin merajalela di sekitar kita. Baik berupa rentenir-rentenir perorangan yang rajin mengetuk tiap pintu rumah yang terjerat kebutuhan ekonomi, maupun lembaga-lembaga perkreditan yang menawarkan pinjaman hanya dengan jaminan surat-surat kendaraan. “Prajurit-prajurit ribawi” tersebut saat ini belum dapat dilawan oleh lembaga keuangan syari’ah formal, yang seringkali mempersulit memberikan pinjaman karena alasan-alasan prudential (kehati-hatian). Yang dapat melawan mereka hanyalah kepedulian kita untuk saling membantu. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membantu meringankan kesulitan-kesulitan dunia saudaranya, maka Allah akan membantu kesulitan-kesulitannya kelak di akhirat.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab Mazhalim, Imam Muslim dalam bab al-birr, Tizrmidzi dalam bab al-birr, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Prinsip yang ketiga, hendaknya setiap muslim tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan hartanya pada hal-hal yang mubah (boleh). Membeli kendaraan mewah, pesawat televisi, handphone yang canggih, perabot rumah tangga, furniture dan barang-barang elektronika lainnya adalah mubah. Namun, hendaknya kita harus mempertimbangkan beberapa hal sebelum membeli itu semua. Pertama, apakah saat kita membeli hal-hal yang mubah itu akan mengurangi pos pengeluaran kita untuk hal-hal yang wajib & sunnah? Jika ternyata kita mengorbankan hal-hal yang wajib untuk membeli hal-hal yang mubah tentu itu bukanlah keputusan yang bijak. Penulis sering melihat ada keluarga yang memiliki TV layar besar lengkap dengan pemutar DVD namun mereka memiliki tunggakan iuran sekolah putra-putrinya dan makanan sehari-harinya kurang bergizi. Padahal point yang terakhir lebih penting daripada point yang pertama. Kedua, saat kita akan membeli barang-barang yang mubah itu, hendaknya kita berfikir berulang-ulang, benarkah barang-barang yang akan dibeli itu memang betul-betul dibutuhkan atau sekedar keinginan belaka ? Banyak orang, misalnya, yang mengidamkan memiliki laptop (komputer jinjing), namun ternyata saat mereka telah memilikinya baru tersadar kalau sesungguhnya ia tidak betul-betul memerlukan benda itu. Demikian juga banyak orang yang berlomba-lomba membeli handphone dengan fasilitas canggih yang berharga puluhan juta, padahal mereka tidak sungguh-sungguh memerlukan fitur-fitur canggih pada handphone-nya. Perilaku membelanjakan harta hanya berdasarkan keinginan dan bukan kebutuhan ini merupakan bentuk dari gaya hidup tabdzir (pemborosan). Allah ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Israa ayat 26 – 27, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam juga pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala suka dan membenci tiga hal dari kalian: suka jika kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan engkau berpegang teguh kepada al-Qur’an. Dan Allah ta’ala membenci jika engkau banyak bicara, banyak bertanya yang tidak penting (untuk menghindar dari kewajiban) dan memboroskan harta”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim) Hal ketiga yang perlu diperhatikan saat membeli barang-barang yang mubah adalah, jangan sampai kita membeli barang-barang yang mubah dengan cara berhutang (kredit / mencicil). Apalagi jika berhutangnya itu dengan disertai bunga (riba). Tentang haramnya riba cukuplah jika merenungkan surat al-Baqarah ayat 275, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. Sedangkan mengenai berhutang ternyata Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam hanya mencontohkan berhutang jika itu terkait dengan kebutuhan pokok saja, tidak pada hal-hal yang mubah. Aisyah ummul mu’minin radhiyallahu ‘anha, pernah menceritakan, “Bahwasanya Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menunda pembayarannya (berhutang), dan beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menjadikan tamengnya dari besi sebagai jaminan atas hutangnya.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, sebagaimana tercantum dalam kitab Fath al-Bary 5/53). Untuk itu Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam sangat mewanti-wanti umatnya untuk tidak terbiasa berhutang.. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian membuat takut jiwa-jiwa setelah kalian mendapatkan ketenangan." Mereka bertanya, "Apakah hal itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab, "Ia adalah hutang." (Diriwayatkan oleh at-Thahawi sebagai dikutip oleh Imam al-Qurthubi dalam al-Jaami' fii Ahkamil Qur'an)

Prinsip yang keempat, hendaknya kita menahan diri untuk tidak berbelanja pada hal-hal yang makruh. Hal-hal yang makruh bisa saja dari hal-hal yang secara dzatiyyah adalah mubah namun karena dibeli secara berlebihan ia menjadi makruh. Seperti makan berlebihan atau memenuhi keinginan untuk mengoleksi sepatu, mobil mewah dan komoditas konsumtif lainnya. Atau, yang makruh itu bisa saja dari benda yang secara dzat-nya memang sudah makruh. Seperti halnya, rokok. Hampir seluruh ulama di negeri ini sepakat bahwa rokok adalah makruh. Bahkan, para ulama internasional, seperti Syekh Abdul Aziz ibn Baz rahimahuLlahu ta’ala mengkategorikan rokok sebagai sesuatu yang haram. Beliau mengungkapkan bahwa rokok haram karena rokok termasuk dalam al-khabaaits (hal-hal yang buruk) dan bukan at-thayyibat (hal yang baik). Keburukan rokok ini dihitung dari besarnya bahaya yang diterima oleh penghisap dan penghirup asap rokok. Padahal Allah SWT telah jelas-jelas menegaskan keharaman seluruh hal yang buruk. Sebagaimana termaktub dalam al-Qur'an surat Al-A’raf : 157 :"Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram).

Prinsip yang kelima, hendaknya kita jangan pernah membelanjakan harta kita pada hal-hal yang haram. Seperti membeli benda-benda yang merusak aqidah kita (jimat, susuk, dan sejenisnya), atau yang merusak mentalitas kita (film-film porno, majalah-majalah amoral, koran kuning), ataupun sesuatu yang sudah sangat jelas keharamannya, seperti, berjudi. Terlebih lagi saat ini perjudian telah merebak bahkan sampai masuk ke ruang-ruang keluarga kita. Perjudian yang berkedok kuis SMS berhadiah di televisi hampir tak mengenal waktu menyerang anggota keluarga kita. Padahal jelas, perjudian inilah amalan syetan yang akan membawa bangsa ini terus terporosok dalam kehancuran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Maidah ayat 90, “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Inilah saudara-saudaraku tercinta, lima prinsip sederhana membelanjakan harta dalam Islam. Semoga kita dapat mensyukuri nikmat harta yang Allah subhanahu wa ta’ala titipkan kepada kita dengan mempergunakannya sebijak mungkin sesuai dengan tuntunan syari’at. Karena, sebagaimana janji Allah subhanahu wa ta’ala, jika kita bersyukur atas nikmat-Nya maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menambah nikmat-Nya. Imam Ibnu Qayyim al-Jauzi menjelaskan tentang ayat ini, dengan ungkapan yang sangat menyentuh. Ujarnya, “Jika seseorang tidak bertambah ni’matnya setiap hari maka sesungguhnya ia telah kurang bersyukur. Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah berdusta.” Untuk itu, jika kita saat ini merasa seakan barokah Allah subhanahu wa ta’ala makin jauh dari negeri ini, bertubi-tubi masalah dan bencana mendera bangsa ini, mungkin itu disebabkan bangsa ini kurang bersyukur. Kurang bersyukur atas nikmat harta (kekayaan alam) yang sudah Allah ta’ala titipkan pada bangsa ini. Karena ternyata harta itu tidak dipergunakan secara bijak sesuai dengan ketentuan-Nya. Bukankah kita adalah negeri dengan tingkat konsumsi tembakau terbesar di dunia (trilyunan rupiah membakar uang setiap tahun), negeri dengan perjudian yang dibiarkan bebas, negeri yang membeli HP nokia communicator terbesar di dunia padahal tidak diperlgukan fitur-nya, negeri yang penduduknya rela membeli televisi layar lebar dengan berhutang agar dapat menonton dangdut sedangkan perutnya keroncongan ... ?
Ya Allah, lindungilah kami. Jangan Kau hukum kami karena perilaku orang-orang bodoh di sekitar kami. Maafkan kami dan bukalah relung hati kami dengan petunjuk-Mu ... Amin Ya Rabbal Alamien.


Wallahu a’lam bis showwab

Muhammad Setiawan(murabbiku), renungan ba’da dhuha 01 April 2008,
saat minyak tanah makin susah dicari.


ShoutMix chat widget